“The issues that politicians and negotiators are dealing with are about our future. and if they are making decisions about us, then not without us”


The experience in CBD COP 10-Nagoya, for me, was worthwhile moment of a lifetime. This was the time where world youth can speak on behalf of their generation to come, urging the world governments to save the nature and protect the species. That was also an amazing occurrence where I delivered 3 minutes Biodiversity speech in “Stakeholders panelist session” -High Level Segment (HLS), in front of 192 government delegations and varied observers.

That was October 28th. There held the official panelist session in COP 10 that involved 8 diverse stakeholders (Parliamentarians [UK], Local govt., Business, Donor, NGOs, Indigenous, Woman, and Youth) to discuss their stances on the pivotal area of biodiversity issue. This is a vast opportunity for youth to speak up and have their idea about their future are being heard by government and all stakeholders. Together along with other youths attending, we tried to lobby our governments to demand highly strong commitment and political will to save the biodiversity loss by 2020. We speak up in forum on behalf of the world youth to let them know that many youth all over the world have capabilities to make a change and save the nature on our own way. Henceforth, as it talks about our future, we demand our involvement in the CBD process for the upcoming time.
So there it goes… My 3 minutes speech sufficiently depicted the current urgency of preserving nature and how important youth should be acknowledged to engage in the negotiation process.
http://webcast.cop10.go.jp/player.asp?id=2803&type=ondemand (skip to minute 36)


CBD COP 10 in Japan mainly aims to three aspect of biodiversity: Conserve biodiversity, use natural resources sustainably, and share Access and Benefit Sharing (ABS) mechanism. After all complexities of multilateral negotiation from 18-28 Octobers, We should be thankful that delegates of the conference agreed to committed legally binding achiaevemets namely Aichi Target and Nagoya Protocol. For this, Japan has already promised US$2 billion to help achieve the Nagoya targets, with smaller sums pledged by other CBD signatories, including France, Norway and the European Union
This brief story of my experience had shown how complex the international negotiations were that it required engaging all stakeholders in every single aspect of life. When talking about the issue of biodiversity and natural resources, it means talking about our future. Throughout the GYBO (Global Youth Biodiversity Organisasion) that had been newly established, the youth succeeded to lobby and convince CBD secretariat to recognize our engagement in the upcoming process of CBD negotiations. Why? Because youth is outsider that can intervene the negotiation with our direct channel regardless political and economical will. We have to participatively take part in decision-making upon our own future.

(With minister of environment Indonesia)

Is that all?

On October 27th, we six had presentation on the outcomes of IYCB 2010 in ministry interactive Biodiversity Forum. There comes many participant esp. from the local students. In this occasion, I presented to audience the initiation on creating the global youth organisation named GYBO to talk and take action related to biodiversity matters among youth all over the world.

This opportunity was a very great experience. At the end of the journey, we were also hosted by a Japanese family for 2 days and a night. This was indeed a pathway to enjoy the time with mesmerizing views, culture and people of Japan.

How do I get there?

This story begun In 2009, when I firstly joined Asian level conference on Biodiversity. My participation in AYCB is due to the selected essay and biodiversity project submission via online platform. Afterwhile, I was selected again to represent AYCB participant to the international level (IYCB) 2010 that was attended by youth from 70 countries with economic, environmental, international relations and diverse background of study or work. Around 3 weeks later, I received an official invitation from the ministry of Japan to represent IYCB participant together along with 5 other fellows from each continent (Egypt, United Kingdom, Brazil, Japan, Indonesia and Germany). Finally, in a discussion I was again chosen to represent world youth to deliver speech about youth and biodiversity (here: script). It’s an honor for us to represent the youth to be the official observer of HLS in CBD COP 10. We know, learn, share one another! Saving biodiversity is saving our future life.

School of thought

Posted: December 6, 2010 in Finest Facts, Inspiration, Interest

Tools ‹ Tama’s Blog — WordPress.

My Sunburst Youth Camp 2008!

Posted: December 6, 2010 in Uncategorized

By tama on Sat, 20 Dec 2008 18:56:00 GMT

SYC 2008 JOURNAL

“Indonesia Delegation”

By : Tama




Pada tahun 2008 ini, indonesia kembali mengirimkan delegasinya dalam program SYC (Sunburst youth Camp) untuk kesekian kalinya. SYC merupakan sebuah program yang diselenggarakan oleh Singapore dengan mengumpulkan remaja-remaja se-Asia untuk berkumpul, berbagi selama 7 hari yang bertujuan untuk persahabatan, pemahaman antarbangsa, kepemimpinan, dan pertukaran budaya. Di tahun ini, ada 13 negara yang berpartisipasi, diantaranya semua negara ASEAN, China, India, dan Kazakhstan. Setelah proses seleksi nasional oleh Depdiknas pada bulan Mei lalu, terpilihlah 8 siswa, terdiri dari 4 cowok dan 4 cewek, yang menjadi duta Indonesia, diantaranya : Tama-Padang, Ikhsan-Jogja, Gege-Jogja, Zulfa-Jogja, Ranggi-Bogor, Shani-Malang, Linda-Bali, Dini-Makkasar.

Sebelum keberangkatan ke Singapore, kami, 8 delegasi indonesia, telah dilatih selama 6 hari di Jakarta untuk penampilan tari-vokal dan eksibisi yang bertemakan “My Heritage” , dan disaat itu jualah kami membangun chemical satu sama lain sebagai tim yang akan mewakili indonesia di ajang internasional tersebut. layaknya orang  dari daerah yang berbeda dipertemukan, kami dapat dengan cepat akrab, tentunya juga dengan dukungan seorang chaperone “pak Rizal”, yang membimbing  kami selama berkegiatan di Singapore.


Day 1 [7 Desember 2008]


Hari keberangkatan menjadi hari yang kami tungu-tunggu dan cukup mendebarkan. Bagaiman tidak, ada diantara kami yang baru pertama kali ke luar negeri bahkan pertama kalinya naik pesawat. Kami, 8 siswa,dengan seorang chaperone bertolak dari bandara Int. Soekarno Hatta dengan garuda Indonesia pada pukul 09.20 pagi. Dengan barang bawaan yang bejibun, alhamdulillah akhirnya pada pukul 01.00 siang, kamipun tiba di Changi int. Airport yang Hi-tech, so clean, so lux, so cool, layaknya mall. Setiba di sana, dengan papan bertuliskan SYC indonesia delegation, teman-teman peserta Singapore beserta komite menjemput kami untuk segera menuju ke hotel RELC international, tempat penginapan selama kegiatan berlangsung.

Perjalanan menuju hotel menjadi first impression yang cukup mengagumkan. Lalu lintas yang begitu tertib dan jalan yang hijau dengan taman kotanya yang bersih dari sampah, serta gedung-gedung tinggi pencakar langit. hal ini sudah sepatutnya bisa jadi contoh bagi negara kita yang kenyang dengan masalah-masalah lalu lintas dan kebersihan kotanya.

Setiba di hotel, panitia memberikan sebuah tas kepada masing-masing delegasi yang isinya sangat lengkap dengan perlengkap[an kegiatan dan meberikan pengarahan singkat tentang disiplin waktu dan kegiatan. Setiap kamar di hotel, diisi oleh 3 orang peserta dari negara- negara berbeda, sehingga sangat membantu kami untuk berbaur denagn teman-teman negara lain.

Hari itu, bersama guide Indonesia delegation yang disebut Ace, kami mengunjungi beberapa tempat wisata di sana, seperti Orchad Road, City Hall, Esplanade, dan marina Square. kesan kedua yang kami dapatkan adalah saat menuju ke tempat tersebut menggunakan city bus dan MRT. Singapore memang juga patut diacungi jempol dalam bidang transportasi umumnya yang sangat nyaman, tertib, dan serba canggih. Tidak heran jika penduduk disana sangat menikmati mengunakan jasa transportasi umum dalam beraktifitas karena dilain pihak, untuk memiliki mobil adalah sangat sulit karena pajak yang sangat tinggi sekali.

Berjalan di orchad road memiliki sensasi tersendiri. Pejalan kaki harus menyebrang pada tempatnya, jika tidak CCTV di sisi jalan siap memonitor gerak-gerik kita, hingga harus membayar denda pada pihak yang berwenang. Sekali menyebrang akan ada banyak penyebrang jalan, para pejalan kaki berjalan cepat dalam ketertibannya. Begitu tingginya kesadaran mereka untuk dapat hidup yang sedemikian apik.

Berbeda sekali dengan di Indonesia, berjalan kaki di Singapore adalah hal yang menyenangkan. Di sisi jalan tersedia jalur khusus yang lebar dan rindang  untuk pejalan kaki, ditambah lagi dengan pemandangan kota yang indah,terutama pada malam hari, wah mantep lah! kalo di Indonesia, mungkin kita akan kenyang dengan masalah-masalah seperti meghadapi keributan lalu lintas, dan polusi yang sangat menggaduh kenyamanan berjalan kaki, diperparah oleh cahaya matahari yang begitu terik.

Satu hal, Singapore sebagai Shopping center in Asia, tentunya kami juga tidak lupa shopping, membeli beberapa souvenir untuk kerabat dan teman di Orchad road.

Day 2 [8 Desember 2008]

Pagi- pagi sekali kami bangun mempersiapkan kegiatan youth camp yang pertama, yaitu outbound di Outward Bound Singapore (OBS), Pulau ubin. Setelah sarapan, kamipun berangkat dari hotel pukul 0745, on time. perjalanan ke pulau ubin membutuhkan waktu sekitar 5 menit menggunakan boat yang telah disediakan. Sebelumnya, para peserta telah dibagi menajdi 8 kelompok yang terdiri dari 19 peserta dari negara berbeda, yang akan menjadi team untuk seluruh kegiatan camp selanjutnya. Di tempat itu, kami bermain beberapa macam game seperti rockclimbing yang memacu adrenalin, teamwork fingering game, dan permainan outbound lainnya yang cukup mengasah kekompakan dan keakraban dalam teamwork masing-masing.. Sesi akhir, setelah makan siang, ada outbound challenge, dimana setiap kelompok harus menyelesaikan beberapa game untuk mendaaptkan kredit yang digunakan untuk membeli peralatan membuat rakit, seperti drom air, tali, pipa , dan bendera. 2 orang diantara kami pun menjadi team leader group, yaitu Shani dan Tama, yang memimpin regu masing-masing dalam outbound challenge. Akhirnya setelah semua group siap dengan raftnya masing-masing, pukul 04.30  rakit diluncurkan ke pantai bersama dengan anggota group pemilik rakit diatasnya. benar-benar pengalaman once in a lifetime yang sangat menyenangkan.

Pada malam harinya, masih di pulau ubin, diaadakan youth camp fire. Seluruh peserta berserta chaperone bersuka ria bersama dalam permainan-permainan, musik, tari, yel-yel, dan diakhiri dengan menyalakan firework.

Hingga akhirnya usai pada pukul 8 malam, dan segera kembali ke hotel untuk beristirahat.

Day 3 [9 Desember 2008]

Hari ketiga, kami mengunjungi universitas negeri terkemuka Singapore NTU dan NIE. kami melakukan beberapa kegiatan seperti campus tour, chemistry dan DNA laboratorium experiment, mengunjungi aeroponik plant green house. tentunya tanaman aeroponik agak sedikit terdengar baru bagi beberapa orang, karena selama ini mungkin baru tehu tentang hidroponik, penanaman tanaman media air. Aeroponik menggunkan konsep tanaman menggunakan media udara dalam rumah kacanya. Bahkan, dengan teknologi ini, beberapa tanaman yang hanya dapat tumbuh di iklim dingin dapat dikembangbiakkan.  pemeliharaanya sangat tergantung pada frekuensi semprotan air pada akar tanaman dan kestabilan suhu dari rumah kaca tersebut.

Usai dari NTU dan NIE, kami bertolak ke Singapore Science Center (SSC) yang tidak jauh dari sana, hanya sekitar 10 menit. Tempat ini merupakan sebuah komplek yang menpertunjukkan berbagai macam hal ilmiah dalam science, termasuk juga apa yang mereka sebut dengan science magic, mulai dari koleksi zaman purbakala, hingga zaman canggih sekarang ini. Kendati lelah seharian beraktifitas dan berjalan kesana kemari, kami sampai tidak memikirkan hal itu karena melihat berbagai hal menarik didalamnya, seperti omni theater yang menyerupai bola bumi, tesla coil, dan yang sangat menakjubkan adalah alat yang seharga sekitar US$7juta, sebuah robot yang mirip scooter, namun dapat membawa kita berjalan diatasnya hanya dengan menggerakkan stir kemudinya kedepan dan kebelakang, sehingga tidak perlu menghabiskan energi untuk berjalan lagi, seperti yang digunakan observer SSC dalam berkeliling dan memantau tempat tersebut. canggih bukan?

Pukul 07.00 malam, setiba di hotel kami, harus mempersiapkan rehearsel pertama (gladi Resik) penamplan tari untuk ditampilkan pada cultural evening. karena delegasi indonesia beserta 6 negara lainnya dapat giliran pada malam itu. Kami pun menampilkan tari cokek dari Betawi yang berdurasi 5 menit di atas panggung sambil mengatur Stage blocking sembari mendapat pengarahan dan komentar dari koreografer SYC.

lastly, go to the room, charging energy aftera whole  tiring day to welcome the next day!


Day 4 [10 Desember 2008]

Kegiatan pertama pada hari ini adalah kunjungan ke NEWater PLAN, sebuah perusahaan yang berperan dalam mendaur ulang air limbah dan mengontrol kebersihan supply air di setiap sudut kota di Singapore, hingga layak diminum walau tanpa dimasak terlebih dahulu, karena memang sudah bersih,steril, dan aman bagi kesehatan. jika kita bandingkan dengan yang ada di Indonesia, seperti perusahaan PDAM. Namun, yang berbeda adalah kecanggihan mesin dan fasilitasnya, tidak hanya sebagai perusahaan mendaur ulang air, tapi juga sebagai sarana edukasi dan eksibisi, karena mereka menyediakan company tour bersama guidenya, dimana kita dapat menyaksikan video sejarah pendauran air di Singapore, presentasi , games yang berhubungan dengan proses daur ulang, dan mesin-mesinnya secara langsung, selayaknya tempat wisata yang sangat nyaman. Hal ini sangat menunjukan tingginya apresiasi Sinapore terhadap pendidikan untuk publik dengan metode yang canggih dan atraktif.

Setelah kegiatan presentasi, seluruh peserta berdiskusi dan sharing tentang keadaan supply air di negara mereka masing-masing. Dimulai oleh delegasi filipina,lalu delegasi indonesia yang saat itu disampaikan oleh tama, yang mengutarakan keadaan supply air di Indonesia dan kekaguman atas teknologi mutakhir dan metode pembelajaran NEWater yang sangat bagus sekali, menurutnya. Kamipun menjadi sadar, beda negara, berbeda pula sistemnya, hal yang membuat kami semakin paham dengan keanekaragaman yang dapat memperkaya satu sama lain, bukannya saling bersaing menjatuhkan yang lain.

Tempat selanjutnya adalah City Gallery, yang menunjukaan gallery kota dan maket besar serta planning pembangunan beberapa tahun ke depan Singapore. Saat itu jualah kami meyakini bahwa Singapore adalah negara kepulauan kecil yang bahkan lebih kecil dari kota jakarta, namun jauh lebih maju dari Indonesia dalam berbagai bidang.

Setelah selesai tour di city gallery, setiap group berdiskusi untuk program selanjutnya, “Urban Challenge”. Kegiatan ini mirip dengan Amazing race, dimana anggota regu harus memecahkan 11 misi yang telah diberikan dengan mengunjungi tempat-tempat berbeda di kota, yang jaraknya cukup berjauhan. Untuk mencapai satu tempat ke tempat lainnya, kita harus bertanya kesana-kemari, naik MRT dan city bus  dalam waktu yang relatif singkat untuk misi tersebut, yaitu dari pukul 1400-1900pm. Team pemenang adalah mereka yang tercepat kembali ke hotel dengan menyelesaikan misi terbanyak, hingga terpilihlah regu 8, dengan team leader Jay dari India, sebagai pemenangnya.

Hari inilah hari yang padat aktifitas dan cukup melelahkan sekali bagi kami, karena pada malam harinya sekalipun, kami beserta seluruh delegasi sibuk menyiapkan booth eksibsi negaranya masing-masing, sampai-sampai delegasi Indonesia hanya tidur 2 jam saja, bahkan ada teman dari delegasi Singapore yang tidak tidur sama sekali demi maksimalnya eksibisi mereka..

oh…ya. satu pengalaman lucu juga bagi tama, yang mendapati tempat tidurnya telah ditempati orang lain selain roommatenya. Setelah paginya ditanya, ternyata dia adalah jason, dari delegasi Laos yang tidur baru jam 4 pagi, setelah menyelesaikan eksibisinya, dan memasuki kamar yang salah akibat sangking ngantuk dan keletihannya.. hh …kamar 1216 yang seharusnya 1016. What a memorable experience!

Day 5 [11 Desember 2008]



Setelah tidur yang singkat , pada pagi harinya, diadakan “Happy Talk” di Ballroom hotel mengenai leadership ayng dipimpin oleh seorang peraih UNESCO Fellowship dan anggota dari National youth Achievement award Council, Zaibun Shiraj. kegiatan berlangsung selama 1,5 jam yang diisi dengan presentasi, diskusi, kuis, dan deklarasi kepemimpinan. Beberapa peserta menjawab dan mengutarakan pendapatnya tentang leadership secara aktif, termasuk delegasi indonesia seperti Linda, Ikhsan, Zulfa, dan Tama yang mendapatkan buku karangan beliau “managing Oneself”setelah memberikan kesimpulan di akhir kegiatan.

Pukul 10 pagi, piknik @ Hort Park. Kami bertolak ke Hort park, semacam hutan wisata di dalam kota, yang memang masih terjaga keasrian dan lebat-rindang pepohonannya. Di sebuah lapangan hijau di daerah itu, kami berkumpul bersama, makan siang dan menampilkan  permainan dan yel-yel dari setiap delegasi negara.Picnic Time!

Kami kembali ke hotel pada pukul 1300 untuk mempersiapkan eksibisi. eksibisi yang sesungguhnya dimulai pada pukul 1600 -1800. Delegasi Indonesia mendapat urutan yang ke 9 dari 13 negara untuk mempromosikan dan mempresentasikan keanekaragaman dan kekayaan warisan negara yang kemudian dinilai oleh dewan juri yang berasal dari chaperone setiap delegasi, dimana chaperone tidak berhak memilih delegasi dari negaranya sendiri. Dalam eksibisi delegasi Indonesia, yang berperan sebagai presenternya adalah Linda, Ikhsan, Tama, dan Gigih, sedangkan Ranggi memainkan musik angklung dan seruling sebagai backsound presentasi dan Shani, Dini, Zulfa penanggung jawab promosi dan pembagian souvenir, laeflet, dan barang pameran.  Kamipun sangat lega dan puas setelah 10 menit presentasi dengan baik, lancar dan sukses, walaupun yang menang dalam eksibisi tahun ini adalah kazakhstan dengan penilaian terhadap 3 kategori, keefektifan promosi, presentasi, dan keatraktifan eksibisi.

Malam hari setelah makan malam, seluruh delegasi melaksanakan rehearsel yang terakhir kalinya, sebelum acara puncak cultural evening esok harinya.

Day 6 [12 Desember 2008]



Secara keseluruhan, hari keenam dijadwalkan untuk kegiatan di dalam hotel saja.  Seluruh delegasi sibuk dengan persiapan kostum,penampilan tari-musik dan eksibisinya untuk cultural evening yang akan dihadiri oleh pejabat-pejabat dari duta besar seluruh negara peserta. Eksibisi hari kedua ini lebih ramai, dimulai dari pukul 1600-1700, karena pengunjung tidak hanya dari pihak pengunjung hotel tapi juga kedubes negara-negara peserta dan terbuka untuk masyarakat umum lainnya.

Pada cultural evening, delegasi Indonesia dengan urutan penampilan yang ke 5 setelah india, menampilkan tari cokek, yang merupakan tari berpasangan, dengan sangat alot dalam gerakan-gerakannya yang begitu indah dan gemulai. Di akhir tarian, dua orang dari kami, Ranggi dan gigih mengibarkan bendera merah putih dan bersama enam teman lainnya meneriakkan “Indonesia…Bisa”.

Penontonpun memberikan applause yang meriah, bahkan beberapa peserta memberikan standing applause.

Day 7 [13 Desember 2008]

The last day was the hardest part for us! kami harus berpamitan satu sama lain dengan seluruh peserta dari delegasi negara yang ada, dengan roommate, SYC Ace, Chaperone negara lain dan para panitia.

Saat kami mengatakan goodbye, seorang delegasi dari singapore menyuruh untuk tidak mengatakan itu, tapi katakanlah See u next time!

Waktu terasa begitu cepat berputar, hingga SYC 2008 harus usai sampai di sini. Namu para peserta berjanji akan terus menjaga komunikasi satu sama lain melaui email,phone, dan internet. FRIENDSHIP FOREVER!

Delegasi Indonesia bertolak ke indonesia pada pukul 0115, hingga khirnya sampai di tanah air pukul 1500. Akhirnya peserta delegasi Indonesia pun mesti berpisah ke daerah masing-masing. Padang, Bogor, yogya, bali, dan makasar.

Pengalaman yang berharga ini telah membuka cakrawala kami mengenai friendship and understanding, diantara bangsa yang berbeda, dan belajar dari negara seberang dengan berbagai kemajuan dan nilai-nilai kebaikan yang ada di Singapore. Hal ini membuat kami bukannya “minder” dengan negara sendiri, tapi tetap semangat dan tidak putus asa utuk bisa memberikan kontribusi yang lebih baik pada tanah air tercinta.

Indonesia…bisa!!!

On February 3rd 2008, was marked with a beneficial event
in Padang, Indonesia. The students from SMA 1 Padang (Senior Secondary School), as well as a schoolteacher, organized a community service. This service intended to improve the preparedness of the students in facing the natural disasters like earth quake and tsunami. This service primarily focused on distributing pamphlets that can give contribution in increasing the people knowledge especially the students related with the ways that can be implemented to reduce the number of victims if natural disasters occur in the future. In addition, the volunteers also trained the elementary school students in arranging safety maps containing the school sketch, escape areas and routes that can lead them to the safe places. Each participants successfully participate in the activities.

This event took place at Baitul Rahman Institution, exactly at the elementary schools. In this event, there were about fifteen students from SMA 1 Padang joined as volunteers. They went to this institution to conduct several activities related with the preparedness in facing Natural disasters. At this institution, there are three elementary schools Fifty children attended this event, accompanied by their teachers.

Firstly, the volunteers distributed pamphlets to the elementary schools students containing the information about earthquake and tsunami to the elementary students. These pamphlets were designed by the volunteers from SMA 1 Padang, under guidance of the schoolteachers. The volunteers divided the children into several groups, and then they explained several things that can be done to anticipate the natural disasters, especially earthquake and tsunami. The elementary students were delighted listening to the information presented by the volunteers and they actively asked them several questions. The children enthusiastically acquired knowledge regarding the preparedness improvement in facing natural disasters such as earthquake and tsunami.

Next, After distributing several pamphlets the volunteers from SMA 1 Padang trained the children in making safety maps. In this activity, the children worked nimbly in their groups with the things and tools provided by the volunteers in making safety maps. In finishing their works, the children shared their job, with the help of the volunteers.

In organizing this project, the volunteers had prepared everything needed since the first week of January 2008. They shared the jobs to be handled assisted by the teachers, in order to they could conduct this community service successfully.

This service provided the volunteers a sense of solidarity with the children, and an appreciation for the importance of improving children preparedness in facing the natural disasters. Similarly, this activity can add the sense of awareness among youth, particularly with something dealt with their own surroundings. Furthermore, this community service can recruit any self-motivating, success oriented, and hard working generation that can be harnessed in progressing a country.

In short, energetic, wonderful, and lovely iEARNers from Padang enjoyed this meaningful community service.

PICTURE 1

The volunteers distributed pamphlets containing the information about earthquake and tsunami to the elementary students, and they explained several things that can be done to anticipate the natural disasters, especially earthquake and tsunami.

PICTURE 2

The elementary students were coloring the corks as one of the things needed in making safety map, under the guidance of volunteers from SMA 1 Padang.

PICTURE 3

The volunteers trained the children in making safety map

PICTURE 4

The volunteers were interacting with the children. They also had a game, quiz, and the winners got a prize.

PICTURE 5

After finishing creating the safety maps, the students took pictures with the volunteers from SMA

Kegiatan

Sebagai salah satu rangkaian acara inti TKHI (temu Keluarga Hubungan Internasional) 2009, Kunjungan NGO dilaksanakan dengan kerjasama sebuah komunitas bernama HOPE worldwide di cilincing, Jakarta Utara. Seluruh mahasiswa baru HI UI 2009 yang berjumlah 43 orang bersama mahasiswa angkatan 07, sebagai mentor TKHI, bertolak ke sebuah permukiman yang bernama Cilincing di pagi hari, 12 Agustus 2009. Sebelumnya, juga telah diberikan pengarahan atas kegiatan dan prosedur aktivitas di tempat pelaksanaan oleh panitia.

Setelah menempuh perjalanan selama lebih kurang 2 jam, seluruh peserta melaksanakan kegiatan sesi pertama yaitu “Daur Ulang kertas”. Bertempat di aula kalibara, seluruh peserta diberikan materi dan petunjuk tentang cara pendaurulangan kertas oleh tim HOPEworlwide serta mencoba membuat kertas baru yang berasal dari cetakan bubur kertas yang dibuat dari kertas bekas. Satu hal yang membuat kamu cukup impresif adalah bahwa ternyata kegiatan yang simple dan bermanfaat ini ternyata juga memiliki nilai harga yang ekonomis dan menguntungkan.

Sesi kedua, “Saturday Academy”, seluruh peserta TKHI yang berjumlah 43 , yang telah dibagi dalam beberapa kelompok dari TK-A sampai SD-6, mengajari dan berbagi pengetahuan kepada adik-adik di HOPEworldwide Community Center. Pada sesi ini, saya mendapat kelompok TK-B, mengajari anak-anak yang umurnya berkisar antra 6-7 tahun. Bersama 2 teman lainnya Widy dan Fale, kami mengajarkan beberapa materi dan bermain beberapa permainan dan bernyanyi bersama di sebuah kelas yang cukup sempit untuk ditempati 30 siswa TK.

Setelah memperkenalkan diri dan memberitahukan etika belajar, kami bermain icebreaking game, memberikan sebuah materi “cita-citaku”, mengajari kata bahasa inggris dasar, membuat hiasan kertas origami, lalu bernyanyi bersama”disini senang, di sana senang”, dan diakhiri dengan kuis dan pemberian hadiah kepada adik-adik yang berhasil menjawabnya. Satu rencana agenda yang tidak jadi dilaksanakan adalah mendongeng, karena tempatnya yang begitu sempit dan anak TK-B yang begitu heboh bersorak soray.

Setelah selesai Saturday Academy, seluruh tim bersama anak-anak ajar mereka beralih ke pantai yang tidak jauh dari tempat sekolah, memberikan souvenir kepada mereka satu per satu, yang dilanjutkan dengan sesi foto bersama tim HOPE Worlwide. Last but not least, panitia TKHI 09 menyerahkan sumbangan buku anak-anak yang dikumpul secara kolektif dari peserta, untuk diberikan kepada HOPE worlide Community.

Relevansi dengan ilmu Hubungan internasional

Sebagai sebuah studi tentang isu-isu global dan permasalahan internasional negara-negara dalam suatu sistem yang melingkupi, salah satu peranan, peran organisasi non-pemerintah (NGO) didalamnya, akan menjadi suatu yang relevan sebagai seorang mahasiswa HI untuk bisa mempelajari dan belajar mengenai NGO dan peranannya dalam dinamika masyarakat. Kegiatan ini memberikan pembelajaran yang realistis dan aktual mengenai bagaimana sebuah NGO bergerak dan manjalankan perananya untuk masyarakat, karena NGO adalah salah satu lembaga independen yang sanggup mengayomi dan mengakomodasikan aspirasi masyarakat secara langsung tanpa banyaknya intervensi dari sistem birokrasi negara.

Dalam lingkup yang lebih luas, sesuai dengan tema yang ada di spanduk TKHI 2009 (lihat hal. 1) , kegiatan ini juga da[at menyentuh salah satu targe MDGs Goal 2: Achieve universal primary education. Setiap orang di muka bumi ini, pada hakikatnya, memiliki hak utuk mendapatkan hak pendidikan dasar secara universal, tanpa membedakan stratifikasi yang ada sekalipun. HOPEworldwide dalam konteks ini, mencoba meraih salah satu poin tersebut dengan melaksanakan program Saturday Academy di sebuah pemukiman kumuh di sebuah daerah suburb. Dis atu sisi, implementasi program ini juga akan menyentuh Goal 1: Eradicate extreme poverty and hunger secara tidak langsung, karena pendidikan akan membuat warga yang miskin dan termarjinalkan untuk dapat merubah kehidupannya dan orang disekitarnya menjadi lebih baik.
• Goal 7: Ensure environmental sustainability. Kegiatan “paper recycling” dapat menjadi solusi bermanfaat tinggi yang ramah lingkungan. Bayangkan jika setiap orang bisa berpikir secara kritis menggunakan barang-barang disekelilingnya dengan baik, kita akan dapat mempertahankan kelestarian dan kekayaan alam lingkungan yang ada sembari menjalani kehidupan dengan ragam kebutuhan tanpa merusak lingkungan. Goal 8: Develop a Global Partnership for Development juga dapat dilakukan dengan hubungan kerjasama yang solid antara NGO dan GO secara global dalam mencapai tujuan-tujuan MDGs.

Manfaat dan ekspektasi

Beberapa manfaat yang kami dapatkan selama kegiatan kunjungan NGO, yakni sebagai berikut :
- Mengembangkan soft skill sebagai kemampuan yang sangat esensial sebagai seorang anak FISIP, khususnya mahasiswa ilmu HI.
- Memberikan kesadaran (social awareness) bahwa belum semua orang di Indonesia yang dapat mengecap pendidikan yang baik dan layak untuk masa depan mereka, sekalipun orang2orang yang berada tidak jauh dari tempat kita sendiri.
- Menerapkan konsep talk less, do more dalam kehidupan sehari-hari sebagai implementasi ide-ide dan pembelajaran yang dilaksanakan di perkuliahan, sehingga dapat memberi manfaat juga untuk lorang lain dan lingkungan.
- Sebuah pengalaman baru yang akan menjadi track record tersendiri dalam kegiatan masa awal di HI.

Besar harapan, setiap dari kita bisa lebih sadar dan peka terhadap lingkungan sekitar atas berbagai isu-isu sosial dan mencoba untuk melakukan sesuatu aksi yang solutif bukan sekedar dalam kata-kata. Semoga akan lebih banyak yang bisa kita kontribusikan untuk masyarakat dan negara, dan lebih banyak yang dapat kita ajak bersama melaksanakan hal ini, demi Indonesia yang peduli.

SEACHANGE YES 2009

Posted: December 6, 2010 in Uncategorized

Youth Engangement Summit
SEACHANGE (South East Asia youth for Change)

SEAchange merupakan sebuah gerakan pada website http://youthsays.com/seachange untuk membawa 1 juta suara kaum muda di ASEAN pada potential partners and networks di regional ASEAN. Melalui SEAchange, diharapkan kaum muda ASEAN memiliki ruang untuk menyampaikan secara langsung usulan-usulan tentang perubahan-perubahan yang mereka inginkan kepada organisasi, pemimpin, pelaku bisnis, dan pihak-pihak yan terkait lainnya.
Klimaksnya, pada tanggal 16-17 November 2009, akan diadakan suatu pertemuan yang membahas secara lebih mendalam mengenai perubahan-perubahan itu di suatu acara yan bertajuk Youth Engagement Summit 2009 di Kuala Lumpur, Malaysia. Selain itu, Pemuda se-Asia Tenggara tersebut saling berbagi tentang Proyek pemuda di komunitas lokalnya masing-masing, bahkan sebagian dari mereka memanfaatkan moment tersebut untuk gerakan advokasi dan merekrut volunteer.
Indonesia mengirim delegasi sebanyak 69 orang yang telah lulus seleksi online dan mendapat full scholarship ke Kuala lumpur. Delegasi indonesia di pimpin oleh komunitas IFL (Indonesia future leaders)

27 October 2010
Speech script that SRIMON made for CBD COP 10 High Level Segment.
Represented by Niwa, delevere the speech of world youth.
(Click for Video)
———————————————————————–

Hello, my name is Niwa, and I am from Indonesia. I have been given this chance to speak on behalf of my generation.
We know that the world is fast approaching a tipping point; we know that biodiversity loss continues at a critical rate; we know that international targets have been set and missed.
These are the facts!

We believe in a vision of the world in 2050. A world in which we have ended the human causes of biodiversity loss; in which we have brought the rate of biodiversity loss close to zero; and in which we have rehabilitated ecosystems.
We believe in this vision, and we believe that it is important, today. For us, this vision is relevant, urgent, and real. The world today is the world we inherit; the world in 2050 is the world we will shape; it is the legacy that we will leave for our children.

We believe that we can achieve this vision, but today we need your help.
There are challenges to achieving this vision. Our world in 2050 will be home to billions more people; it will have to provide food, water, and energy for all of them.
Decisions made here, today, by you, can help us overcome these challenges.

What will it take?
We must engage youth as a stakeholder. We have the initiative, the enthusiasm, and the resourcefulness to accomplish real change.
At the International Youth Conference here in August, I saw this capacity for change. I met young people from across the world: campaigning for protected areas in South America; alternative livelihoods in Africa; or marine and coastal ecosystems in Southeast Asia.
People often talk about the need to educate young people about conservation. The people I met here in Nagoya don’t need to be educated, they need to be empowered.
What we need is a platform.
We are creating a world-wide youth network committed to combining our strengths and our ideas: the Global Youth Biodiversity Organisation, or GYBO.
Now we need a permanent youth representative within the CBD Secretariat.

Young people learn by example.
What examples are we being set?

We are learning that international targets don’t need to be met.
That funding commitments don’t need to be kept.
That responsibilities do not need to be shared.
And that international conferences can frustrate, rather than inspire.

In 1992, Severn Cullins-Suzuki spoke at the Rio Summit:
In my life, I have dreamt of seeing the great herds of wild animals, jungles and rainforests full of birds and butterflies, but now I wonder if they will even exist for my children to see.
Today, 18 years later, this fear is closer to being reality, not further away.
Why? The promise of Rio was not fulfilled.

Nagoya must be different.
Today, you can set ambitious targets for reducing the rate of biodiversity loss. Tomorrow, you can go out and start meeting them.
You can show the world that international cooperation can be a force for change, rather than just a buzzword. Ratifying a fair, enforceable, and legally-binding protocol on ABS would be a powerful way of showing this.
And you can set the stage for Rio +20, when the world will face a moment to alter the course of life on our planet.

Today, you have the chance to set a truly inspiring example for change.
Don’t disappoint us.

How one defines international systems is thus about how one defines international relations as a discipline. Based on Buzan and Little journal and comparative books, reviewer, hereby, will try to explain definition of international system in IRs and elaborate the distinctive difference throughout the analytical lens (approach) of Realist and Neorealist. At the end, the reviewer concludes that characteristics and interactions of behavioral units (internal factors) are considered as the direct cause of political events by realist while neorealist argued that systemic constraints of each country (external factor) rather than their internal composition.

Bull and Watson’s formulated that Int. system is “a group of independent political communities forming a system, in the sense that the behaviour of each is a necessary factor in the calculations of others.” There is also the more formal definition by Waltz that the international system comprises units (states), interactions and structur. These authors implied that states must be in sufficiently close and intense contact and an international system does not come into being until quite high levels of (strategic) interaction exist.

In fact, the historical record suggests that international systems range from very small, through regional and inter-regional to global in scale. During the ancient and classical era, it is easy to find examples of international systems on a quite small scale. During the first half of the third millennium BC, Sumerian civilization was organized as a system of city-states. This is recognizably an international system, having independent units, diplomacy, war and trade. Later in nineteenth and twentieth century, one finds larger regional international systems.

According to Buzan and Little, The historical record suggests that four types of interaction are significant for any broadly conceived understanding of international relations: military, political, economic and cultural . Since the idea of system is an analytical concept, one has the right to set the criteria for it in an arbitrary manner. The point is that these choices have consequences for how we understand and interpret the historical record. If the criteria for defining international systems are set in a tight and restrictive way (military/ political interaction), then we will see fewer such systems. If the criteria are more open and less restrictive, we will see more international systems and find them earlier.

Waltz’s (1979) understanding of political structure suggests that international systems always have structure. For Waltz, “a system is composed of a structure and of interacting parts.” He divides political structure into three tiers: the organizing principle (anarchy), the functional differentiation of units (units alike in terms of functionality), and the distribution of capabilities (how many great powers are in the system) .

The distinctive difference of international relations analysis will be explained through comparing Morgenthau and Waltz’s arguments. Classical Realists (Morgenthau) analyze that international systems are caused by factors focusing on action and interaction of units—principle of human nature, the idea of interest are defined in terms of power, the attitude of statesmen, rather than highlighting the systemic constraints of international politics. Power is rooted from human and statesmen . The Behavioral methodology of realists explains the political impact by assessing the main parts of the political system. In other words, the characteristics and interactions of behavioral units (internal factors) are considered as the direct cause of political events.

Neo-realists (Waltz) Denied the statement of classical realist that it is possible to predict the condition of international politics by assessing the country’s internal composition. Waltz opposed with a question: Why is the country’s foreign policy showed the same attitudes despite different political systems and ideological conflict (i.e. US and USSR: Their Deeds and policy along Cold War are similar)?

Realist can not handle the cause at stage of the above countries: ignoring the important impact of the structure as the forces that shape and encourage units within the international system. The answer to this question can further be found in the systemic constraints of each country (external factor: above countries) rather than their internal composition, because this systematic force equate foreign policy stance by placing themselves between the countries and their diplomatic stance (the largest contribution of neo-realism to the traditional theory). This is based on the power coming from the international anarchist who became systematically from a state requirement. The theory postulates that the driving force behind decisions in international relations is the fact that states are trying to respond to changes in international systems in order to survive.


The year of 2010 had been declared as the international year of biodiversity by the United Nation General Assembly 61th session. Coinciding with celebration of World Environment Day , there are many events taking place in the world regarding the celebration of Biodiversity year. Some of many are World Environment Day in Rwanda 5th June, and COP-CBD10 held in Nagoya city, Japan, environmental conferences and so forth. Before determining your pace, we have to figure out the question: “Why do people need to do this? What for and how significant as a global issue?” Thus In my opinion there are 3 major significances of biodiversity and environment as an issue.

Firstly, Biodiversity (BD) is ife and is our life. It brings enormous benefits to mankind from direct goods as harvesting of plants and animals for food, cloth, medicine, fuel, construction materials, and other uses that give you need to live. Those needs are coming from nothing except the nature of Biodiversity. It’s fundamental to the existence of life on Earth. However humans have been the main cause of recent rapid destruction. Ecosystems are being destroyed, animals and plants becoming extinct, and biodiversity is being lost due to increased human activities that ignore the sustainability of biodiversity.

Secondly, Biodiversity clearly plays a major role in the function of ecosystems, and the chain of lif (indirect value of BD). For instance, biodiversity helps keep fresh air to breathe, water clean and naturally manages waterflow and watershed. Excessive exploitation such as deforestation has negatively affected the entire ecosystem itself, and some scientists fear that these could eventually affect humans. We need Ability to not only understand the problems we have created and what needs to be done to amend them, but also the capability of accomplishing these tasks.

Last but not least, Biological Diversity gives the recreational benefits for everyone. Hiking, camping, and birding. In addition, ecotourism is becoming increasingly popular, which has not only raised awareness about biodiversity, but also helps the natural environment economically as well. The beauty and the value of it have complemented the side of how important it is. Aside from that BD also have research values within its richness~ the source of science and technology.

In short, biodiversity is a fundamental component of life on Earth and thus must be protected. we all “need” and “want” biodiversity . We can eventually live entirely with nature, not harm the very system that allows us to exist. This is also about the interdependence of all these living things, including humans. intrinsic theory is that people did not create nature, and therefore should not have the right to destroy it. Every species has a right to not be eliminated by humans of this lies in goods obtained from nature. Thus Conservation and sustainable use of Biodiversity are tangible ways of tackling down problems that exist. A mass media, like Treeehugger will efeciently work to drive informations among people. Promoting values n order ot achieve MDGs 7

Start from yourself, begin with a small thing, and start it RIGHT NOW!!!

Now, we steadily understand why environment and its biodiversity are prominently significant to life. The only thing I can say is to make yourself aware of this issue and spread the words. Apply your awareness in every routine activity you are doing. That’s all thing that matter!!
And we (all) will live in a world paradise….^_^

“I wonder… if people on earth were actively engaged in creating good environment, and thought of themselves as agent of change, problem solvers, role models, and key “stakeholders”…how would the planet change?”


What Will you do??

CONFERENCE OF ASIAN YOUTH ON BIODIVERSITY
,Nagoya,Japan 2009

The Ministry for the Environment Japan hold the Asian Biodiversity Conference for Youth, age 16 until 24 Japan from 2nd August to 6th, Hosted by the Ministry of Environment Japan and Japan Youth Ecology League.
Thirty International delegates of environmentalist from 13 different countries across Asia and around fifty delegates from Japan had participated to discuss various problems related to biodiversity loss and to formulate a strong youth opinion.
The conference comprised various input sessions, discussions, workshops, a small excursion and a cultural exchange program. The four day conference went on smoothly and the participants actively discussed, debated and worked together on common biodiversity related issues such as the post millennium target, access to Genetic Resources and benefit-sharing, Climate change and biodiversity, Increasing monoculture, Forest management, Invasive alien species , ecotourism and indifference of United States towards CBD.
The entire conference revolved around formulation of a bold Youth Statement that will be presented before the CBD COP 10 TO BE HELD at Nagoya next Year in the month of October.
Strong action plans were adopted by the young enthusiastic members which will be implemented in their respective countries.
Another significant outcome was the initiation of Asia youth biodiversity network that will perpetuate the strong network that has been created through this conference.